Mulai pertengahan Oktober hingga November 2010 akan berlangsung berbagai kegiatan pada sejumlah ruang pamer seni rupa di kota Bandung dan 1 galeri di Jakarta. Kegiatan besar ini diberi tajuk “Sang Ahli Gambar dan Kawan-kawan”.
Mengiringi pameran sketsa dan gambar S. Sudjojono, akan ditampilkan karya-karya lebih dari 200 orang seniman Indonesia yang merespon dan menafsir karya-karya, pemikiran dan sosok Sudjojono. Frasa “sang ahli gambar” adalah representasi S. Sudjojono, yang ketokohannya dikenal melalui “Persagi” (Persatuan Ahli Gambar Indonesia), sementara “dan kawan-kawan” merujuk pada seniman-seniman yang masih aktif dan terlibat dalam pameran ini.
Dipilihnya bulan Oktober berkaitan dengan, pertama, Oktober adalah bulan penyematan S. Sudjojono sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Penyematan ini diberikan oleh Trisno Sumardjo pada 60 tahun yang silam. Kedua, sekalipun ditemukan beragam versi mengenai hal ini, bulan Oktober – berdasarkan arsip-arsip yang ada – adalah tahun berdirinya Persagi (Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia), tertulis 23 Oktober 1938. Organisasi para ahli gambar atau seniman pertama di tanah air ini menandai lahirnya kesadaran baru sekaligus sangat menentukan arah seni rupa Indonesia kemudian. Ketiga, kegiatan ini sekaligus “Mengenang 25 Tahun wafatnya S. Sudjojono”.
Peran S. Sudjojono Bagi Seni Rupa Indonesia
S. Sudjojono lahir di Kisaran tahun 1913. Ia adalah “Bapak Seni Lukis Indonesia Baru”, seorang kritikus dan pemikir seni yang merintis pendefinisian ‘seni’ dan ‘seniman’ dalam konteks sejarah Indonesia. S.Sudjojono adalah orang Indonesia yang pertama kali menemukan istilah ‘sanggar’ dan ‘pelukis’. Ia juga orang yang pertama kali mempopularkan kata “seniman” yang saat ini digunakan secara luas (Menurut S. Sudjojono, pencipta kata “seniman” adalah Ki Mangunsarkoro – Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Ke-5, 1940-1950).
Pada 1940-an, Sudjojono merumuskan dalil “jiwa ketok” atau “jiwa tampak” yang sangat terkenal. Dalil ini berkenaan dengan definisinya tentang “seni”.“Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, makasebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan,” katanya. “kesenian adalah jiwa”.
Dibandingkan dengan karya-karya Affandi atau Hendra Gunawan, tema dalam karya-karya S. Sudjojono memiliki kompleksitas tersendiri. Dan ini yang membuatnya menjadi begitu khas. Selain serial buket-buket bunga yang banyak dia hasilkan, tema-tema S. Sudjojono menyasar ke potret sosial; potret diri; keseharian keluarga; kritik terhadap dunia seni; sejarah nasional; fantasi; ragam tradisi; pemandangan hingga kecenderungan religi.
Dalam kegiatan pameran besar di Bandung kali ini, kehadiran sosok Sudjojono akan diwakili oleh karya-karya gambar dan sketsanya yang dikerjakan sepanjang 1950 – 1986. Berjumlah kurang-lebih seratus buah, karya-karya ini akan dipajang di Galeri Soemardja, FSRD ITB dengan tajuk “Sang Ahli Gambar”. Pameran ini termasuk sangat langka karena sebagian besar sketsa dan gambar yang merupakan koleksi S. Sudjojono Center tersebut belum pernah ditampilkan di publik. Buku “Sang Ahli Gambar” yang ditulis oleh Aminudin TH Siregar akan diluncurkan mengiringi pameran ini.
Di ruang-ruang seni lain di Bandung dan Jakarta, pameran “Sang Ahli Gambar dan Kawan-kawan” diikuti oleh lebih dari 200 seniman Indonesia yang masih hidup. Pameran besar ini akan menampilkan lukisan, patung, fotografi, gambar, dll., sebagai bentuk penghormatan kepada ‘sang ahli gambar’.
Baru kali inilah sebuah pameran berskala besar diselenggarakan di berbagai tempat untuk menghormati S. Sudjojono. Bagi ruang-ruang seni yang terlibat, pameran ini merupakan kesempatan pertama kalinya untuk bisa tampil bersama dalam satu payung besar kegiatan. Sejumlah acara pendukung lain seperti monolog, seni pertunjukan, seminar dan diskusi seputar sosok dan kekaryaan S. Sudjojono akan berlangsung di berbagai tempat sepanjang bulan Oktober – November 2010.
Kegiatan ini dipersembahkan oleh S. Sudjojono Center dan Galeri Canna – Jakarta.
|